Friday, January 9, 2009

BERSATU DENGAN ALLAH

BERSATU DENGAN ALLAH

Pertanyaan klasik yang sering muncul yang biasa dipertanyakan oleh orang yang sedang ingin memperdalam agamanya ataupun orang yang awam mengenai agama, yaitu Di manakah Allah? Bagaimana kita bisa memahami eksistensi-Nya bila kita sendiri kurang bisa mengatur tingkat kesadaran kita. Maksud saya ialah jangankan untuk memahami eksistensi-Nya, untuk sadar bahwa kita hidup di dunia ini fana saja itu kadang-kadang kita terlarut dalam kenikmatan duniawi yang akhirnya dapat menjerumuskan kita menjadi khilaf atau lupa bahwa kita ini tidak kekal hidup di dunia, apalagi untuk `menyadari` eksistensi Allah yang penuh teka-teki.


Lanjutnya, Apakah Allah berada di langit? Langitnya orang Indonesia dengan orang Amerika kan berbeda? Pertanyaan ini cukup untuk menjawab pertanyaan "apakah Allah berada di langit?". Apakah Allah bersemayam di setiap hati manusia? Kalau begitu Allah ada di mana-mana, Allah banyak? Yang pasti Allah itu "ESA" alias satu `Laillahaillahu` tiada tuhan selain Allah. Apakah Allah hanya berada di tempat suci? kalau jawabannya `Ya`, bagaimana dengan Qur`an yang bercerita bahwa Allah itu Maha Meliputi? Dan yang menjadi masalah yaitu pertanyaan "apakah kita ini bersatu dengan Allah?", sebagaimana sebagian orang menyatakan bahwa dirinya tuhan atau Allah seperti yang sudah tidak asing lagi yaitu Syech Siti Jenar (Syeh Lemah Abang) dan Al Hallaj, Naudzubillah... Allah itu Esa!!! manusia ya manusia meskipun dirinya sehebat apa, toh akhirnya akan mati-mati juga.


Buku "Bersatu Dengan Allah" yang dirangkum oleh Bpk. Agus Mustofa ini menjelaskan semua pertanyaan tadi dengan sedikit demi sedikit membongkar tabir ghaib. Tapi sebelum baca buku ini, sebaiknya baca dulu buku karya beliau yang berjudul "Terpesona Di Sidratul Muntaha" dan "Menyelam Ke Samudera Jiwa Dan Ruh" untuk tidak terjadinya distorsi atau penyimpangan pemahaman yang terlalu jauh, agar ilmu yang dapat diserap lebih utuh dari pemahaman pak Agus. Pak Agus dalam memahami segala sesuatunya yang beliau tuangkan di buku-bukunya berdasarkan atas "Keseimbangan", keseimbangan ayat Qauliyah dan Kauniyah yang `Harmonis` yang sungguh sangat menarik untuk kita baca buku-nya dan kita pahami kemudian diamalkan. Selepas dari itu semua saya tidak bilang bahwa pak Agus benar, sebagaimana saya tidak pernah bilang semua orang itu benar. Dan saya juga tidak bilang pak Agus itu salah, sebagaimana saya juga tidak bilang semua orang itu salah. Saya sangat salut terhadap beliau karena beragama-nya tidak hanya ikut-ikutan. Jujur beliau telah memberikan sesuatu nafas segar buat kehidupan saya. Wallohua`lam.

Related Posts by Categories



Bookmark and Share

0 comments: